July 07, 2009

adab ketika berbicara..

1. Semua pembicaraan haruslah kebaikan

Tidak ada kebaikan pada kebanyakan bisikan bisikan mereka, kecuali bisikan-bisikan dari orang yang menyuruh (manusia) memberi sedekah, atau berbuat makruf, atau mengadakan perdamaian di antara manusia. Dan barang siapa yang berbuat demikian karena mencari keridaan Allah, maka kelak Kami memberi kepadanya pahala yang besar. (surah an-Nisa; 4:114)

dan orang-orang yang menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan) yang tiada berguna (surah al-Mukminun; 23:3)

Dalam hadits Nabi disebutkan: Barangsiapa yang beriman pada ALLAH dan hari akhir maka hendaklah berkata baik atau lebih baik diam. (HR Bukhari Muslim)

2. Berbicara harus jelas dan benar; sebagaimana dalam hadits 'Aisyah: "Bahwasanya perkataan RasuluLLAH itu selalu jelas sehingga bisa difahami oleh semua yang mendengar.” (HR Abu Daud)

3. Seimbang dan menjauhi bertele-tele; berdasarkan sabda Nabi: Sesungguhnya antara orang yang paling aku sayangi dan paling dekat majlisnya denganku pada hari kiamat ialah yang paling baik akhlaknya dari kalangan kalian. Dan sesungguhnya orang yang paling aku benci dan paling jauh majlisnya dariku nanti pada hari Kiamat ialah ats-tsartsarun (yang banyak bicara kosong), al-mutasyaddiqun (berlagak dalam berbicara sehingga menyukarkan kefahaman manusia) dan al-mutafayhiqun.” Maka dikatakan: Wahai RasuluLLAH. Kami telah mengetahui erti ats-tsartsarun dan mutasyaddiqun, lalu apa makna al-mutafayhiqun? Maka jawab Nabi: “Orang-orang yang sombong. (HR Tirmidzi dan dihasankannya)

4. Menghindari banyak berbicara, kerana khuatir membosankan yang mendengar, sebagaimana dalam hadits yang diriwayatkan oleh Abu Wa`il:

Adalah Ibnu Mas’ud senantiasa mengajari kami setiap hari Khamis, maka berkata seorang lelaki: Wahai Abu Abdur Rahman (gelar Ibnu Mas’ud)! Seandainya engkau mahu mengajari kami setiap hari? Maka jawab Ibnu Mas’ud: Sesungguhnya tidak ada yang menghalangiku memenuhi keinginanmu, hanya aku khuatir membosankan kalian, kerana akupun pernah meminta yang demikian pada Nabi dan baginda menjawab khuatir membosankan kami. (HR Muttafaqun ‘alaih)

5. Mengulangi kata-kata yang penting jika diperlukan. Dari Anas bin Malik bahawa adalah Nabi jika berbicara maka baginda mengulanginya 3 kali sehingga semua yang mendengarkannya menjadi faham, dan apabila baginda mendatangi rumah seseorang maka baginda mengucapkan salam 3 kali. (HR Bukhari)

6. Menghindari mengucapkan yang bathil; berdasarkan hadits Nabi sallallahu 'alaihi wasallam:

Sesungguhnya seorang hamba mengucapkan satu kata yang diredhai ALLAH yang ia tidak mengira akan mendapatkan (ganjaran) yang demikian sehingga dicatat oleh ALLAH keredhaan-NYA bagi orang tersebut sampai nanti hari Kiamat. Dan seorang lelaki mengucapkan satu kata yang dimurkai ALLAH yang tidak dikiranya akan demikian. Maka ALLAH mencatatnya yang demikian itu sampai hari Kiamat. (HR Tirmidzi dan ia berkata hadits hasan shahih; juga diriwayatkan oleh Ibnu Majah)

7. Menjauhi perdebatan sengit.

Tidaklah sesat suatu kaum setelah mendapatkan hidayah untuk mereka, melainkan kerana terlalu banyak berdebat. (HR Ahmad dan Tirmidzi)

Dalam hadits lain disebutkan sabda Nabi:

Aku jamin rumah di dasar syurga bagi seseorang yang menghindari debat sekalipun ia benar, dan aku jamin rumah ditengah syurga bagi yang menghindari dusta walaupun dalam gurauan, dan aku jamin rumah di puncak surga bagi yang baik akhlaknya. (HR Abu Daud)

8. Menjauhi kata-kata keji, mencela dan melaknat;

Bukanlah seorang mukmin jika suka mencela, mela’nat dan berkata-kata keji. (HR Tirmidzi dengan sanad shahih)

9. Menghindari banyak canda, berdasarkan hadits Nabi:

Sesungguhnya seburuk-buruk orang disisi ALLAH pada hari Kiamat kelak ialah orang yang suka membuat manusia tertawa. (HR Bukhari) (tambahan: ertinya tawa yang melalaikan dan melampau, atau tawa yang bertujuan buruk seperti mengaibkan seseorang)

10. Menghindari menceritakan aib orang dan saling memanggil dengan gelar yang buruk;

Hai orang-orang yang beriman janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain (kerana) boleh jadi mereka (yang diolok-olok) lebih baik dari mereka (yang mengolok-olok) dan jangan pula wanita-wanita (mengolok-olok) wanita-wanita lain (kerana) boleh jadi wanita-wanita (yang diperolok-olokkan) lebih baik dari wanita (yang mengolok-olok); dan janganlah kalian mencela diri kalian sendiri; dan janganlah kalian panggil memanggil dengan gelar-gelar yang buruk. Seburuk-buruk panggilan ialah (panggilan) yang buruk sesudah iman dan barang siapa yang tidak bertaubat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim. (surah al-Hujurat; 49:11)

Juga dalam sebuah hadith: Jika seseorang menceritakan suatu hal kepadamu lalu ia pergi, maka ceritanya itu menjadi amanah bagimu untuk menjaganya. (HR Abu Daud dan Tirmidzi dan ia menghasankannya)

11. Menghindari dusta.

Tanda-tanda munafik itu ada 3, jika ia bicara berdusta, jika ia berjanji mengingkari dan jika diberi amanah ia khianat. (HR Bukhari)

12. Menghindari ghibah dan mengadu domba.

Janganlah kalian saling mendengki, dan janganlah kalian saling membenci, dan janganlah kalian saling berkata-kata keji, dan janganlah kalian saling menghindari, dan janganlah kalian saling meghibah satu dengan yang lain, dan jadilah kalian hamba-hamba ALLAH yang bersaudara. (HR Muttafaqun ‘alaih)

13. Berhati-hati dan adil dalam memuji; berdasarkan hadits Nabi dari Abdur Rahman bin abi Bakrah dari ayahnya berkata:

Ada seorang yang memuji orang lain di depan orang tersebut, maka kata Nabi: “Celaka kamu, kamu telah mencelakakan saudaramu! Kamu telah mencelakakan saudaramu!” (2 kali), lalu kata baginda: “Jika ada seseorang ingin memuji orang lain di depannya maka katakanlah: 'Cukuplah si fulan, semoga ALLAH mencukupkannya, kami tidak mensucikan seorangpun di sisi ALLAH', lalu barulah katakan sesuai kenyataannya.” (HR Muttafaqun ‘alaih dan ini adalah lafaz imam Muslim)

Dari Mujahid dari Abu Ma’mar berkata: Berdiri seseorang memuji seorang pegawai di depan Miqdad bin al-Aswad secara berlebih-lebihan, maka Miqdad mengambil pasir dan menaburkannya ke wajah orang itu, lalu berkata: "Nabi memerintahkan kami untuk menaburkan pasir di wajah orang yang gemar memuji." (HR Muslim)

No comments:

Post a Comment

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...